Vegan Kartini

Tulisan ini terinspirasi dari status Facebook saya yang saya tulis 2 tahun lampau:

Surat Kartini 27 Oktober 1902 kepada Ny.R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya, berkata:

Sekarang kami masih harus menceritakan sesuatu mengenai diri kami, kami tidak tahu pendapat Nyonya, kami sekarang pantang makan daging. Sudah lama kami merencanakan itu dan bahkan beberapa tahun saya hanya makan tanaman saja tetapi tidak punya cukup keberanian susila untuk bertahan.

Entah apa maksud dari Soekarno, presiden pertama Indonesia, menetapkan seorang Vegan sebagai tokoh nasional. Saya sudah berusaha menemukan Keputusan Presiden No. 108 tahun 1964. Sayangnya, hasil pencarian nomor satu hanyalah tulisan yang mendiskreditkan Kartini. Saat tulisan ini saya tuliskan, situs resmi pemerintah peraturan.go.id pun tak dapat diakses.

Tentang opini mendiskreditkan Kartini itu, saya tidak mau banyak berpendapat. Opini amatir ini tidak menggali sisi sosio-budaya, politis, dan latar belakang pengangkatan Kartini. Kalau mau diambil positif, dia hanya salah satu bentuk kritik mengapa hanya Kartini saja yang diangkat.

Tetapi, hal yang paling serius adalah tulisan renungan Hari Kartini oleh Kami Perempoean. Blog ini menggambarkan kejujuran wanita Indonesia modern tahun 2018:

Mereka tidak kenal siapa gagasan Kartini!

Menurut saya, seharusnya buku “Sehabis Gelap Terbitlah Terang” menjadi bacaan wajib bagi para feminis Indonesia, atau orang-orang yang terinspirasi emansipasi. Tetapi, kenyataan memang pahit. Buku terjemahan tulisan Armijn Pane ini kalah pamor dibandingkan dengan karya kekinian lainnya. Padahal, Daniel Hutagalung sampai menyebut R.A. Kartini sebagai peretas zaman baru karena ide-ide radikal melampaui zamannya.

Tentang Kartini

Kartini bukanlah dewi. Dia adalah seorang manusia dalam tubuh wanita yang terkungkung aturan adat Jawa. Tuhan memberi dia anugerah untuk lahir di dalam keluarga yang mengedepankan kemajuan. Itu sebabnya, dia bisa memberikan berpikir.

Suami yang tak dicinta, namun memberikan kebebasan berekspresi. Pemberontakan kepada agama, sampai akhirnya menemukan penerimaan tentang adat dan latar kebijaksanaan yang ada di dalamnya. Ia kompleks, ia paradoks. Namun, dalam kungkungan zaman, ia berhasil terbebas dan memanfaatkan.

Kalau boleh disandingkan, dia itu seperti Zen Ikkyū, seorang anak singkong Kaisar Jepang yang menjadi Biksu. Kekuatannya adalah tulisan gagasannya yang menginspirasi orang. Setidaknya, tulisan Kartini menginspirasi Soekarno dalam memandang wanita.

Pudar

Mungkin karena selama ini kita hanya tahu saat hari Kartini adalah hari kostum pakaian daerah. Entah apa maksud Orba menerapkan hari itu sebagai hari berkostum bukannya membahas tulisan Kartini dan niat yang terkandung dalamnya. Mungkin mereka tidak ingin membuat kegaduhan. Masih ada orang-orang yang tidak nyaman dengan pandangan ekstrim Kartini.

Sssst…. Sedikit pencarian di Google, kita bisa menemukan PDF tulisan Kartini, lho. He… he… he….

Saya pikir ada banyak hal yang kita bisa petik dari tulisan Beliau. Perjalanan Beliau dari seorang yang baru jadi feminis sampai bijak dalam bergerak. Menurut saya, ada alasan luar biasa dan cita-cita Bapak Bangsa kita tentang kedudukan wanita yang terinspirasi dari sana. Dus, mengenai Keputusan Presiden No. 108 tahun 1964, betapa besar mulia landasan negara kita ini dalam membebaskan dari penjajahan.

Evolusi Konservasi Pengetahuan

Sewaktu zaman Yunani kuno, orang mulai populer membuat tulisan. Namun, Socrates menentang adanya adat baru ini. Dia berkata,

[Tulisan] ini akan membuat jiwa yang mempelajarinya menjadi terbiasa untuk terlupa: mereka jadi malas mengingat karena mereka percaya kepada tulisan, sesuatu yang eksternal dan bergantung pada simbol-simbol yang dimiliki oleh orang lain, dan bukannya berusaha mengingat dari dalam, sesuatu yang milik mereka sendiri.

Intinya, dia memprotes budaya tulisan. Dia lebih suka oral dan semua muridnya mengingat setiap ajaran yang dia ajarkan di dalam hati. Untungnya Plato, muridnya, seorang yang bandel. Hari ini kita tidak akan tahu pemikiran-pemikiran bapak filsafat Barat ini apabila si Plato mendengar kata-kata gurunya.

Lanjut ke zaman sekarang, Kindle dan Android menjadi murah untuk dibeli. Internet semakin menyediakan bacaan daring. YouTube semakin mudah terakses. Niat membaca buku fisik pun semakin berkurang. Dan generasi pencinta buku pun berlaku bak Socrates; menistakan generasi baru yang mulai “malas” membaca buku.

Evolusi Kebutuhan

Saya terakhir membeli buku tentang bidang saya sewaktu semester tiga kuliah S1. Sewaktu kuliah, saya melihat apa yang dibahas dosen saya pun banyak yang sudah merupakan pengembangan dari buku. Apalagi, di tempat saya kuliah S1, buku rujukan bukanlah kewajiban dan setiap mahasiswa boleh menggunakan buku yang berbeda.

Ketika saya diperbolehkan bertapa di dalam Lab, saya pun diperkenalkan dengan candu yang namanya jurnal internasional. Saya diperkenalkan dengan akses IEEE, ACM, direct science, dan sebagainya. Oh, sungguh candu! Saya harus mengemis kepada rekan saya yang kuliah di luar sana ketika ada artikel yang tak bisa terakses dengan akses yang dimiliki tempat saya belajar.

Saya ingat sekali pemeo waktu itu. Buku adalah pengetahuan lima tahun lalu. Jurnal adalah pengetahuan tahun lalu. Blog adalah pengetahuan termutakhir.

Saya pun tidak lagi melihat buku sebagai sumber yang bisa diandalkan.

Swalayan Internet

Orang mungkin bilang bahwa buku adalah sumber ilmu. Ketika saya ingin belajar keilmuan saya, saya seringkali mendapati tulisan dalam buku rumit. Akhirnya, saya mendapatkan naungan penjelasan lebih lengkap pada blog-blog orang yang lebih personal. Lebih jujur mengungkapkan kekurangannya.

Forum-forum, Quora, dan StackOverflow memanjakan setiap orang yang ingin langsung melihat kode atau tulisan. Wikipedia menyediakan tulisan yang cukup komprehensif untuk memulai mengetahui sesuatu. Bahkan, mereka berbaik hati menyediakan tautan ke tulisan-tulisan lebih dalam.

YouTube memperkenalkan kembali sejarah penuturan oral. Sehingga, banyak anak yang sekarang terbantu dengan pembelajaran di YouTube daripada membaca buku pelajaran Marthen Kanginan. Apalagi, saluran seperti Kok Bisa? yang berusaha menyajikan suatu pengetahuan dengan bahasa sehari-hari misalnya, menyediakan alternatif bagi orang untuk dengan mudah mencerna suatu pengetahuan.

Waspada Jebakan Betmen

Jujur, setiap kita jadi tidak lagi memikirkan alasan yang ada di belakang setiap implementasi. Apalagi, tuntutan zaman yang menginginkan kita memiliki 1001 kemampuan membuat kita tidak bisa menyerap seluruhnya secara mendetail.

Seperti dibilang Socrates, memang ada kecenderungan jiwa menjadi bergantung kepada simbol-simbol dari orang lain. Pengetahuan tacit yang kita miliki menjadi tidak sekaya seperti orang lain. Akibatnya, kita pun menjadi miskin dalam berpikir.

Lah, itu ‘kan yang menjadi kelemahan adat menulis? Kalau itu dibebankan ke budaya swalayan Internet, seharusnya buku pun juga menjadi tersangka utama.

Ya, solusinya adalah dengan ikut menjadi orang yang berbagi kepada yang lain. Ya, toh? ‘Kan pengetahuan kita pun ikut terekam dan menjadi bagian pengetahuan “orang-orang lain” tersebut. Pengetahuan kita pun teruji oleh orang lain dan kita pun terbiasa berkomunikasi.

Mengutip kata Iang,

Ilmu kalau tidak dibagi, basi!

Justru itulah, blog dan vlog (blog video) mendukung setiap orang untuk berbagi. Proses berbagi ini menjadikan pengetahuan yang dimiliki oleh orang lain yang dibagikan ke dalam diri seseorang mengalami naturalisasi. Proses berbagi ini menjadikan pemikiran tersebut pun menjadi ingatan dalam diri seseorang.

‘Lah. Berarti pada zaman ini Uwak Socrates tidak lagi perlu cemas, ‘kan, ya?

Terakhir

Jadi, jangan salahkan kids zaman now memiliki kecenderungan untuk melupakan buku. Tetapi, terimalah bahwa zaman ini sudah mengembangkan media lain untuk menyimpan pengetahuan eksternal. Kalau pun buku menjadi punah, bersyukurlah karena hal tersebut mengurangi kebutuhan membabat habis hutan hujan tropis.

Cambridge Analytica

Di tengah kegaduhan rakyat Indonesia tentang keabsahan kegadisan Lucinta Luna, dunia sedang berduka tentang terbongkarnya pengumpulan data oleh Cambridge Analytica (CA). Ada sekitar 50 juta akun yang berhasil dikeruk oleh CA. 50 juta data tersebut didapatkan dari 270.000 orang yang mengikuti kuis personalitas (personality test).

Data tersebut diolah dan digunakan untuk kepentingan politik sehingga mempengaruhi politik di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Berbeda dengan iklan yang tidak mengenal secara pribadi orang yang ditargetnya, hasil pengolahan data ini dapat menentukan kata-kata/strategi yang tepat untuk memanipulasi keputusan untuk memilih secara lebih akurat. Hal ini karena proses yang dilakukan melewati batas privasi manusia.

Sebagai contoh, Trump secara tak sengaja memberitahukan tentang bagaimana CA memberikan kata “drain the swamp” untuk menjadi slogan saat dia harus menghadapi rakyat AS. Akibat penggunaan kata tersebut, Trump mengalami peningkatan dukungan yang signifikan saat melakukan pidato politiknya.

Itu baru di Amerika Serikat. Di Indonesia, ada beberapa perusahaan yang memiliki potensi data yang bisa digunakan untuk memanipulasi rakyat Indonesia dengan cara yang tidak etis. Saat ini, kita hanya bisa bergantung kepada niat baik perusahaan tersebut. Namun, niat baik itu tidaklah cukup tanpa ada konsekuensinya.

Sudah saatnya kita berhati-hati membagikan apa pun yang ada di media sosial. Seperti pepatah tentang media sosial mengatakan,

Kalau engkau tak membayar saat menggunakannya, berarti kamulah produknya.

Lalu, bagaimana cara menetralisasi pengaruh pengolahan data tak etis tersebut? Bagaimana mencegah mass social engineering? Saya hanyalah ahli TIK, semoga rekan-rekan di sosial bisa memiliki jawaban yang lebih baik dari saya.

Setelah Datang ke Kanim Jakarta Pusat

Pada tanggal 10 Maret lalu, saya memberi konfirmasi. Bot WA mereka sempat mati. Tapi, saya bersama beberapa lainnya melaporkan via Twitter. Mereka bahkan menanyakan balik menunggu umpan balik dari saya.

Info notifikasi pendaftaran pun saya dapatkan. Saya pun datang ke Kanim pada tanggal yang ditentukan. Wow, saya terkejut bercampur sedih.

Menurut petugas di sana, untuk perpanjangan paspor, cukup menyertakan foto kopi KTP dan halaman identitas paspor. Keduanya difotokopi satu saja pada kertas A4.

Saya pikir jam proses itu basa-basi, ternyata memang cepat. Masuk ke kantor; mengisi formulir pendaftaran; menunggu antrian panggil; wawancara; kemudian, keluar membawa formulir yang berisi petunjuk pembayaran paspor.

Setelah itu, menunggu 1×24 jam untuk mengirimkan WA ke nomor yang tertera di formulir itu dan mendapatkan kode pembayaran. Lalu, transfer bank untuk membayar. Sekarang tinggal menunggu 5 hari kerja saja.

Sedih, saya izin seharian dari kantor. Bingung mau berbuat apa karena sudah terlanjut izin. Prosesnya tak sampai setengah jam, soalnya. Hahaha….

Tapi, saya bangga sama Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Luar biasa!

Pelakor

Garis kronologis media sosial saya dipenuhi dengan istilah pelakor. Saya pikir itu istilah slank mengacu ke pelaku zinah. Ternyata, itu artinya perebut laki orang.

Jelas sekali bahwa yang disalahkan adalah wanita. Rekan-rekan saya mengeluhkan bahwa bahkan yang menuduh demikian adalah kaum wanita itu sendiri. Padahal, it takes two to tango.

Ini paradoks! Pria digambarkan memiliki otoritas sebagai pemimpin dalam masyarakat Patriarkal. Namun, bila terjadi hal yang salah, yang diharapkan mengambil tanggung jawab adalah wanita.

Agama Membela Wanita

Saya jadi ingat kisah Injil yang menceritakan tokoh-tokoh Yahudi kala itu hendak meminta Yesus menegakkan keadilan. Mereka membawa kepada Yesus seorang wanita yang ketahuan berzinah. Mereka mengharapkan Yesus menjadi Hakim untuk melempari batu seperti ada tertulis dalam Taurat.

Kemudian, Yesus menulis di tanah. Satu per satu dari yang paling tua meninggalkan tempat hingga hanya tinggal Yesus dan wanita tersebut. Yesus pun membebaskan wanita tersebut.

Sebagai bagian dari iman saya, ada pelajaran penting diajarkan kepada saya dalam kisah ini. Saya memahami bahwa dalam kondisi masyarakat Patriarkal ada yang salah dengan kondisi saat ini.

Di bagian lain Yesus mengajar:

Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. — Matius 5:27-30 (TB)

Jelas bahwa Yesus memberikan gambaran bahwa pria seharusnya bertanggung jawab atas kejadian perzinahan itu. Saya membela wanita karena itu bagian dari iman saya. Bahwa, ketika pria punya kuasa, ia juga punya tanggung jawab.

Raja Daud bertanggung jawab atas perselingkuhan itu! Bukan salah Batsyeba mandi bugil lalu Raja Daud jadi terangsang. Jelas Nabi Tuhan memperingatkan Raja Daud, bukan Batsyeba.

Saya tidak mau masuk ke ranah agama lain. Tetapi, sepencarian daring saya menemukan bahwa agama lain juga mendukung. Itu sepencarian saya, ya. Mungkin juga ada mazhab yang berkata berbeda.

Tapi, bila dibahas dari iman Kristiani, tidak pantas seorang Kristen sejati menuduh-nuduh orang atau pun mempersekusi. Apalagi, hanya mempersekusi kaum wanita.

Wanita Tidak Satu

Hal yang paling menyedihkan yang saya lihat adalah kecenderungan menyalahkan wanita dalam setiap waktu.

Buah jatuh dari pohonnya. Kalau anak berhasil, itu berkat bapaknya. Kalau anak gagal, ibunya yang cenderung disalahkan.

Kalau tidak punya anak atau hanya ada anak perempuan, maka yang disalahkan istri. Keluarga besar bahkan tak segan meminta sang suami mencari istri baru. Itu termasuk para wanita lain dalam keluarga besar tersebut.

Zaman sudah maju. Di pelajaran Biologi pun sudah diajarkan bahwa anak terbentuk dari separuh gen ayah dan separuh gen ibu. Bahkan, gen penentu anak lelaki ada di pria. Mengapa ilmu ini tidak jadi patokan?

Memang, pembawa marga pada beberapa suku bangsa adalah pria. Namun, seingat saya, ada penghormatan secara khusus kepada wanita untuk setiap suku bangsa di Indonesia. Sepertinya nilai ini pun tergerus.

Kalau begitu, mengapa kaum wanita tidak membela kaumnya sendiri?

Yang menjunjung adat, mengapa tidak mencari kearifan adat tentang penghormatan terhadap wanita?

Yang benci perselingkuhan, mengapa tidak menembak juga pria yang terlibat?

Ya, tentu, bukan tugas wanita saja. Kita sebagai orang beragama atau setidaknya yang terpelajar, juga punya tugas yang sama.

Sudah tak pantas rasanya menggunakan istilah pelakor. Kita tidak tahu siapa yang menggoda. Dan jangan salahkan Tuhan menganugerahkan seseorang cantik dan seksi. Salahkanlah juga mata yang tak segera berlari dari godaan.

Pengalaman Pendaftaran Antrian e-Paspor

Saya mendaftarkan diri di aplikasi Antrian Paspor. Sayangnya, saya tidak pernah mendapatkan tanggal dan selalu kosong. Saya panik karena saya pikir saya salah atau aplikasinya rusak. Saya juga ingin tahu apakah saya bisa langsung saja datang ke sana (walk-in). Akhirnya, saya pun mendatangi Kantor Imigrasi Jakarta Timur.

Ternyata semenjak Agustus 2017, seluruh Kantor Imigrasi di DKI Jakarta tidak lagi melayani walk-in. Kalau kata petugas di sana, pendaftaran antrian memang sengaja ditutup dan akan dibuka pada hari Sabtu dan Minggu ini (24 dan 25 Februari 2018). Masih ada, sih, yang melayani walk-in seperti Kanim Bekasi. Sayangnya, Kanim sana tidak ada pembuatan e-Paspor.

Usut punya usut, dari akun Twitter Ditjen Imigrasi, pendaftaran selain melalui aplikasi Antrian Paspor, dapat juga menggunakan WhatsApp.

Dari laman Ditjen Pajak, ternyata Jakarta Pusat memiliki nomor telepon WhatsApp (WA) 081299004406.

Untuk bisa mengakses, saya harus menambahkan kontak baru di WA dengan nomor tersebut.

Lalu, saya memulai percakapan dengan format:

#Nama Lengkap#Tanggal Lahir#Tanggal Daftar

Misalnya:

#John Doe#01011970#14032018

Setelah itu, saya mendapatkan balasan:

✅ Konfirmasi Penjadwalan Layanan Paspor Anda:
🔹 Nomor WA:628120000001
🔹 Nama:JOHN DOE
🔹 Tgl Lahir: 01-01-1970
🔹 Tgl Kedatangan: 14-03-2018.
 
Bila Anda yakin dengan data tersebut diatas segera balas (reply) pesan ini dengan mengirim *kode persetujuan* berikut: 01234567 atau dapat langsung di-copy paste kode tersebut dibawah pesan ini untuk mendapatkan *kode booking* layanan paspor.
Abaikan pesan ini apabila ingin membatalkan penjadwalan Anda.

Terima kasih

ℹ Layanan Antrian via WhatsApp (LAW) Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Pusat 🇮🇩

Lalu dia mengulang kode:

01234567

Saya lalu menulis ulang kode tersebut sebagai konfirmasi.

Setelah saya kirim kode konfirmasi, dia lalu mengirimkan tulisan:

✅ Telah terjadwal layanan paspor Anda: 
🔸 No. WA: 628120000001
🔸 Nama: JOHN DOE
🔸 Tgl Lahir: 01-01-1970
🔸 Tgl Kedatangan: 14-03-2018
🔸 Jam: 08:00 - 09.00 WIB
🔸 Kode Booking: 9ZZZZ

 
✅ Perhatian:

🔴 *_Guna menimimalisir adanya penyalahgunaan antrian dan lamanya daftar tunggu antrian, PEMOHON DIWAJIBKAN UNTUK KONFIRMASI ULANG PADA TANGGAL 10-03-2018 DENGAN MENGIRIM PESAN #hadir. Bagi pemohon yang tidak melakukan konfirmasi ulang, akan dibatalkan secara otomatis oleh sistem._*
🔹 Apabila ingin melakukan pembatalan jadwal layanan silahkan ketik #batal
🔹 Tunjukkan bukti konfirmasi ini kepada petugas melalui ponsel Anda.
🔹 Anda diharuskan hadir 30 menit lebih awal dari jadwal waktu yang telah ditentukan.
🔹 Kode booking antrian hanya berlaku sesuai tanggal yang telah ditentukan.
🔹 Silakan melakukan booking antrian ulang bila tidak datang sesuai tanggal dan jam yang telah ditentukan.
🔹 Nomor WhatsApp Anda hanya bisa mendapatkan satu kode booking sampai batas tanggal layanan yang dimiliki.
🔹 Pastikan data pada setiap dokumen sama!!!!! Jika terdapat perbedaan data pada KTP Elektronik / KK dengan dokumen identitas diri agar dapat di benarkan terlebih dahulu.
🔹 Surat asli dokumen dan paspor lama (bagi yang telah memiliki paspor) harus dibawa lengkap saat pengajuan paspor dan di foto copy dengan berukuran kertas A4.
🔹 Permohonan akan ditolak bila tidak lengkap/tidak sama/tidak identik  dan pembayaran permohonan paspor tidak dapat dilakukan penarikan kembali.
🔹 Untuk mengetahui persyaratan paspor ketik #persyaratan.

Terima kasih
ℹ Layanan Antrian via WhatsApp (LAW) Kantor Imigrasi Kelas I Jakarta Pusat 🇮🇩

Wow! Cepat sekali. Oh, iya, saya melakukan “kecurangan.” Saya tahu tanggal yang kosong dari teman saya yang terlebih dahulu memasukkan berulang-ulang tanggal sampai ketemu tanggal yang kosong. Makanya, saya tahu tanggal berapa yang kosong. Kalau tidak, saya harus menebak dahulu hari apa yang kosong dan kemungkinan penuh. Ha… ha… ha….

Oh, iya, nanti tanggal 10 Maret 2018 saya harus kirim kode:

#hadir

sebagai bentuk konfirmasi. Itu bisa minta teman dekat atau saudara untuk mengingatkan. Atau, tambahkan ke pengingat di telepon genggam supaya tidak lupa.

Tulisan ini hanya sekedar berbagi pengalaman. Kode-kode dan tanggal sudah disamarkan/diganti. Mohon kalau masih ada data yang asli, beritahu saya biar saya sensor juga.111

Satu hal yang saya apresiasi dari Ditjen Imigrasi adalah kemauan dan kemampuan mereka untuk memberantas pungli. Luar biasa!

Black Panther

Film Black Panther merupakan film yang bisa menjadi membosankan. Banyak yang bilang bahwa mereka bosan menonton film ini. Saya pun menemukan banyak orang, terutama ibu-ibu yang keluar duluan sebelum film berakhir. Mungkin saja film berdurasi 134 menit ini terlalu membosankan untuk mereka.

Dibandingkan dengan film Marvel lainnya, film ini minim lelucon. Di bioskop saja kadang yang tertawa hanya saya sendiri. Itu mungkin karena banyak yang tidak paham dengan konteks adegan film itu.

Buat saya, film Black Panther adalah film yang penting dan mengagumkan. Beraninya Disney Marvel membuat sebuah film drama politik! Seperti komik-komik yang selalu menyempilkan isu-isu sosial, film ini pun menyempilkan banyak isu sosial!

Misalnya, poin yang dibuat oleh rekan saya: mengapa dimulai tahun 1992? Mengapa bukan 80-an, 70-an? Karena tahun 1992 ada kerusuhan rasial di Los Angeles yang sangat relevan dengan gerakan Black Lives Matter.

Film ini pun mengambil formula yang sama dengan film Captain America: Civil War. Mereka tidak berusaha memihak jagoan mereka. Mereka berusaha menunjukkan pandangan dua pihak.

Mereka menempatkan Killmonger, musuh utama Black Panther dengan latar belakang. Kalau mau jujur, kita bisa bersimpati kepada tujuannya melakukan ini semua. Walau pun pada akhirnya, karena posisinya sebagai antagonis, dia tidak ditempatkan sejajar dengan Black Panther.

Film ini pun membuat pernyataan yang menentang Presiden Amerika Serikat saat ini:

Wise men build bridges, fools build barriers. — T’Chala, raja Wakanda

Beraninya Disney Marvel membuat film pernyataan politis! Ini ‘kan seharusnya menjadi ranah film-film “serius”, bukan untuk film pahlawan super “receh” seperti ini.

Film ini juga mengenalkan ide-ide radikal dan latar belakang dibalik keradikalan mereka. Namun, Ryan Cooglar secara berhati-hati membungkus semua itu sehingga tidak mengejutkan banyak orang. Dia nampak sekali berusaha tidak membahas dalam agar tidak membuat orang yang menonton tidak nyaman.

Siapa pun tahu bahwa 12 Years a Slave adalah film yang bagus. Tetapi, siapa juga yang mau menonton film itu berulang-ulang. Mengilukan!

Ryan Coogler menyediakan poinnya dengan membuat tirai tipis. Sedikit saja kalau kita mau menonton dengan seksama, poin tersebut bisa dibaca. Sungguh, film ini menjadi tontonan berbobot yang layak untuk dirayakan.

Tentunya, film ini tidaklah sempurna. Beberapa adegan CGI masih belum rapi dan kentara sekali. Beberapa seperti tempelan dan tidak alami. Melihat ada beberapa studio efek digital yang terlibat menghasilkan film ini tidak merata kerapian proses CGI-nya. Padahal ada ILM di kredit akhir. Saya malah pikir, mengapa tidak menggunakan WETA?

Keengganan Coogler untuk membuka lebih jauh adegan-adegan terorisme yang menjadi latar film ini menjadi beberapa bagian film ini lemah. Karena keengganan tersebut, kita terpaksa harus berandai-andai motivasi beberapa karakter dalam film ini. Mungkin dia takut film ini menjadi terlalu serius. Wajar, sih, saya juga hampir lupa kalau ini film Disney Marvel.

Saya jadi penasaran dengan adegan-adegan yang tidak masuk ke produk akhir. Apakah jangan-jangan mereka sudah membuat itu semua, ya? Menurut saya, film ini akan maksimal untuk dinikmati bila kita mengetahui tentang isu-isu sosial di dunia saat ini.

Itu sebabnya, film ini bagi saya layak mendapatkan ponten 90 dari 100. Karena 100 milik Tuhan, 90 milik guru. Film ini merupakan film yang sangat menarik. Film ini juga berusaha dengan baik menyediakan sarana untuk diskusi isu sosial global saat ini.

Saya mau menonton ulang film ini lagi.

Sukses

Banyak orang mempertanyakan apakah dirinya sukses atau tidak. Ada yang mengukur dari agama. Ada yang mengukur dari pencapaian diri. Ada yang menghitung dari kekayaan. Berbagai interpretasi ini membuat kebingungan orang. Sukses seakan tidak dapat diukur.

Padahal, menurut KBBI:

suk·ses /suksés/ a berhasil; beruntung

Atau dengan kata lain:

ber·ha·sil v 1 mendatangkan hasil; ada hasilnya: usahanya ~ baik dalam tahun ini; 2 beroleh (mendapat) hasil; berbuah; tercapai maksudnya: segala usahanya ~; saya coba mendamaikan mereka, tetapi tidak ~;~ guna dapat membawa hasil; efektif;

Artinya, tercapai suatu hasil yang diharapkan dari sesuatu yang dicari/diusahakan untuk didapatkan. Secara obyektif, maka hidup yang sukses adalah hidup yang mencapai hasil. Tinggal dibuat metodologi penilaian secara empirik untuk mengukur tingkat kesuksesan.

Penentuan Hasil Capaian (KPI)

Kalau menurut ilmu organisasi, hasil itu merupakan capaian yang dihitung dari Key Performance Indicator/KPI. KPI adalah rapot nilai untuk mengevaluasi seberapa hal-hal yang telah ditentukan sebagai pencapaian kesuksesan telah terpenuhi. Biasanya, untuk peningkatan, penghitungan KPI dilakukan dalam satu siklus (misalnya setahun).

Contoh KPI:

  • Selama setahun, saya bisa tertawa lepas lebih banyak 20% dari tahun lalu.
  • Berkat yang saya terima tahun ini meningkat 15%.
  • Saya bisa berlibur ke luar negeri sebanyak 4 kali.
  • Saya punya pasangan hidup.

Nah, dari itu, baru kita bisa membuat Prosedur Operasional Baku (POB/SOP) untuk mendukung itu. Setiap pengoperasian POB dapat dikuantifikasi dan dinilai kinerjanya sebagai KPI. Sehingga, pada agregasi akhir tahun/siklus penghitungan, dapat tergambarkan nilai capaian seseorang.

Artinya, sukses dapat ditentukan berapa persen capaian yang telah tercapai secara keseluruhan. Misalnya dengan menggunakan prinsip Pareto, setiap KPI dapat digolongkan seberapa tingkat kesuksesan. Lalu, nilai tambah dari pengujian secara metodologis ini bisa menyediakan data untuk memperbaiki sampai kepada level sukses yang diinginkan.

Membentuk Capaian

Tentu, tidak sembarang kita menentukan KPI! Ada banyak cara/metodologi untuk menghitung hal tersebut dalam organisasi. Satu hal yang sama dari mereka adalah semuanya membutuhkan definisi visi dan misi untuk ditentukan sebagai dasar.

Menurut ilmu Capability Maturity Model (CMM), entitas yang belum mendefinisikan visinya berada dalam Level 0: Not Performed, alias kekanak-kanakan dan masih jauh dari dewasa. Kalau ada orang yang tidak punya tujuan hidup, tidak usah ditanyakan apakah dia sudah sukses atau tidak. Orang tersebut tidak punya dasar.

Dia belum cukup dewasa untuk dapat diperhitungkan. Pantas saja dia hanya bisa mengikut-ikut, terombang-ambing, dan gampang diperalat. Bisa dibilang, secara empiris orang ini tidak akan sukses karena sukses memberikan hasil. Hasil adalah produk dari pencapaian obyektif.

Sebelum yang lainnya dibuat, terlebih dahulu didefinisikan Identitas seseorang. Identitas seseorang misalnya, Pekerja TIK Kristen, Ibu Rumah Tangga Muslim, dan lain sebagainya. Identitas menjadi koridor/pondasi dalam menentukan hal-hal yang lain seperti misalnya Visi dan Misi.

Visi dan Misi terdefinisi dalam Kalimat Visi dan Kalimat Misi merupakan tujuan dan arah seseorang sebelum secara spesifik menentukan capaian-capaian khusus. Kalimat Visi harus dibuat secara sederhana, singkat, jelas, ambisius namun tidak mengawang-awang, dan memiliki target yang dapat terukur. Kalimat Misi harus berisi apa yang ingin dilakukan secara umum untuk mencapai visi tersebut. Jangan lupa, semuanya sesuai dengan Identitas!

Lalu, misalnya menggunakan metodologi Balanced Scorecard misalnya, bisa dibuatkan Strategic Map. Langkah ini untuk menentukan capaian yang diperlukan untuk mencapai Visi dan Misi dalam empat area metodologi ini — finansial, internal, kustomer, dan pembelajaran. Tentu saja, area-area dapat disesuaikan urutannya sesuai dengan identitas yang terkandung dalam tema strategi.

Setelah itu, setiap capaian per area pun dapat dikembangkan menjadi obyektif yang harus dicapai. Dari obyektif-obyektif yang tercipta, kita mendefinisikan metrik (ukuran) untuk menghitung obyektif tersebut. Nah, inilah yang menjadi KPI yang pada akhirnya dipakai untuk secara obyektif mengukur tingkat kesuksesan.

Akhir Kata

Sukses itu bisa secara obyektif dapat dihitung dan dibuktikan hanya saja orang-orang belum terlalu dewasa untuk membuat dirinya bisa terhitung. Namun, kita dapat mengukur kesuksesan seseorang apa bila dengan menganalisis orang tersebut dan menentukan:

  • Identitas orang tersebut.
  • Kalimat Visi dan Kalimat Misi orang tersebut. Kadang untuk melakukan reverse engineering, perlu analisis historis dan keluarga orang tersebut untuk memahami hal yang lain.
  • Obyektif orang tersebut.
  • Tingkat pencapaian dalam obyektif tersebut.

Tuh! Mudah, bukan, untuk menghitung kesuksesan? Apakah sesuai dengan identitas dan visi/misi yang kamu pilih, Anda sudah sukses?

Cantrang

Hari-hari ini Nelayan Indonesia ada yang bergerak memrotes pelarangan Cantrang. Yang tercatat terbesar misalnya yang berasal dari Tegal. Ribuan nelayan memang terancam kehilangan pekerjaannya.

Sewaktu SD, guru saya bercerita bahwa desanya bagus pertaniannya. Lalu, kemudian bukit yang di dekat desanya mulai ditebangi. Hama pun menyerang dan lahan mereka tak lagi subur.

Menurut hasil diskusi, saat ini terjadi penurunan hasil penangkapan ikan akibat penangkapan ikan berlebihan (overfishing). Penggunaan cantrang, terutama yang dilengkapi dengan pemberat dan bermesin, menangkapi ikan tanpa pandang bulu. Hal ini mengakibatkan ekosistem laut menjadi rusak.

Kerusakan ekosistem laut ini bisa membuat laut tidak dapat memperbaharui habitatnya. Bayangkan bila ini terjadi bertahun-tahun, maka akan semakin sulit bagi nelayan untuk mencari ikan. Lagi-lagi, hanya mereka yang bermodal besar yang bisa mencari ikan jauh ke laut yang dalam. Kalau pun ada nelayan biasa, mereka bermodalkan nekat.

Pelarangan cantrang sudah ada sejak lama dan sudah lama ditunda-tunda. Ketidaksiapan nelayan ketika Januari 2018 diberlakukan patut dipertanyakan. Terutama, kinerja pemerintah daerah dalam sosialisasi pelarangan ini. Bukannya menghambat, malah dalam dua tahun terakhir jumlah cantrang semakin banyak!

Pil pahit ini harus ditelan untuk kepentingan nelayan juga.

 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑